Besok Ribuan Mahasiswa Demo di Jakarta, Pramono Harap Aksi Berlangsung Happy-happy
Jakarta kembali menjadi pusat perhatian nasional seiring dengan rencana digelarnya aksi demonstrasi besar-besaran oleh ribuan mahasiswa pada Rabu, 28 Oktober 2026. Aksi yang dipusatkan di kawasan strategis Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat ini, menuntut perhatian pemerintah terhadap berbagai isu krusial yang tengah berkembang di tanah air. Menanggapi rencana tersebut, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, memberikan pernyataan resmi yang menekankan pentingnya menjaga kondusivitas kota di tengah dinamika demokrasi.
Pramono Anung, dalam keterangannya saat melakukan kunjungan kerja di wilayah Jakarta Utara pada Selasa (27/10/2026), menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sangat menghormati hak setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat di muka umum. Menurutnya, kebebasan berekspresi adalah pilar penting dalam sistem demokrasi yang dianut Indonesia. Namun, ia memberikan catatan tegas bahwa kebebasan tersebut harus dibarengi dengan tanggung jawab sosial yang tinggi.
"Jakarta adalah ibu kota negara sekaligus etalase demokrasi Indonesia. Kami tidak pernah melarang siapapun untuk bersuara, namun saya sangat berharap aksi besok dilakukan dengan cara-cara yang tertib, aman, dan penuh kedamaian," ujar Pramono. Ia menyoroti bahwa kenyamanan warga Jakarta lainnya juga harus menjadi prioritas di tengah berlangsungnya aksi unjuk rasa tersebut.
Lebih lanjut, mantan Sekretaris Kabinet ini mengingatkan para peserta aksi agar tidak terjebak dalam tindakan yang merugikan kepentingan bersama. Pramono secara spesifik meminta mahasiswa untuk menghindari tindakan anarkis, seperti pengrusakan fasilitas publik yang selama ini menjadi aset penting warga Jakarta. Menurutnya, fasilitas seperti halte bus, taman kota, hingga rambu lalu lintas adalah milik bersama yang harus dijaga keberadaannya.
"Saya berharap mahasiswa sebagai kelompok intelektual dapat menunjukkan kedewasaan dalam berdemokrasi. Jangan sampai aksi yang membawa aspirasi mulia justru ternoda oleh tindakan anarkisme atau gangguan ketertiban umum yang merugikan masyarakat luas," tambahnya. Ia juga menekankan bahwa setiap tindakan perusakan akan merugikan keuangan daerah yang sebenarnya bisa dialokasikan untuk kepentingan publik lainnya.
Dalam upaya menjaga keamanan dan ketertiban, Pramono menyatakan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah berkoordinasi erat dengan pihak kepolisian dan TNI. Sinergi antara unsur pemerintah, kepolisian, dan militer ini diharapkan mampu menciptakan suasana yang kondusif, sehingga aspirasi mahasiswa tersampaikan dengan baik tanpa perlu adanya gesekan di lapangan.
Pramono melontarkan istilah yang cukup unik untuk menggambarkan harapannya terhadap aksi tersebut. Ia berharap demonstrasi besok bisa berlangsung dengan suasana "happy-happy". Istilah ini, menurut Pramono, mencerminkan keinginan agar aksi penyampaian aspirasi tidak harus diwarnai dengan ketegangan yang berlebihan atau ancaman fisik.
"Harapan saya, demonstrasi besok berjalan dengan ‘happy-happy’ saja. Mari kita tunjukkan bahwa masyarakat Jakarta bisa berdemokrasi dengan elegan, nyaman, dan damai. Saya ingin aksi besok menjadi contoh bagaimana aspirasi disampaikan tanpa mengganggu aktivitas ekonomi dan mobilitas warga Jakarta," tutur Pramono.
Pernyataan ini mencerminkan pendekatan komunikatif yang diterapkan Pramono selama menjabat sebagai Gubernur. Ia cenderung memilih jalur persuasif untuk meredam potensi konflik daripada menggunakan pendekatan represif. Strategi ini dianggap efektif untuk menjaga stabilitas ibu kota yang kerap menjadi sasaran aksi massa dari berbagai elemen masyarakat.
Sementara itu, pihak kepolisian di wilayah hukum Polda Metro Jaya dikabarkan telah menyiapkan pengamanan di sejumlah titik krusial di Jakarta Pusat. Fokus pengamanan tidak hanya tertuju pada Bundaran HI, tetapi juga pada area sekitar Istana Merdeka dan gedung-gedung pemerintahan lainnya. Pihak berwenang mengimbau agar massa aksi tetap mematuhi aturan jam unjuk rasa sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku.
Bagi masyarakat umum, rencana aksi demonstrasi ini menjadi pengingat untuk mengantisipasi potensi kemacetan lalu lintas. Beberapa ruas jalan protokol di Jakarta Pusat kemungkinan akan mengalami penutupan atau pengalihan arus sebagai bentuk antisipasi agar massa aksi dapat terakomodasi di lokasi unjuk rasa dengan aman.
Pramono Anung juga menambahkan bahwa pintu komunikasi antara Pemprov DKI Jakarta dan mahasiswa akan selalu terbuka. Ia berjanji akan menampung setiap aspirasi yang disampaikan selama aksi berlangsung, baik melalui audiensi langsung maupun melalui catatan tertulis yang disampaikan oleh perwakilan pengunjuk rasa. Baginya, dialog adalah kunci penyelesaian masalah yang jauh lebih efektif daripada sekadar aksi di jalanan.
Sebagai penutup, Pramono kembali mengajak seluruh lapisan masyarakat, khususnya mahasiswa, untuk menjaga nama baik Jakarta sebagai kota yang ramah dan beradab. Ia optimis bahwa para mahasiswa yang akan turun ke jalan besok adalah mereka yang memiliki semangat konstruktif untuk kemajuan bangsa. "Mari kita jaga Jakarta tetap tenang. Saya yakin rekan-rekan mahasiswa paham betul batasan-batasan dalam berdemokrasi. Semoga besok semuanya berjalan lancar dan aspirasi dapat tersampaikan kepada pihak yang dituju," pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, berbagai elemen mahasiswa dari berbagai universitas di Jakarta dan sekitarnya dikabarkan terus melakukan konsolidasi. Mereka berencana untuk membawa isu-isu spesifik terkait kebijakan publik dan isu keadilan sosial yang dianggap mendesak untuk segera diselesaikan oleh pemerintah pusat. Dengan adanya imbauan dari Gubernur DKI Jakarta, diharapkan seluruh rangkaian aksi unjuk rasa esok hari dapat berlangsung sesuai koridor hukum, tertib, dan mencerminkan semangat demokrasi yang sehat di ibu kota.

Leave a Reply