Uncategorized 4 menit baca

Rentetan Kecelakaan Laut Berlanjut, 1 Orang Tewas dan 1 Santri Hilang Akibat Kapal Terbalik di Ternate

Rentetan Kecelakaan Laut Berlanjut, 1 Orang Tewas dan 1 Santri Hilang Akibat Kapal Terbalik di Ternate

Rentetan Kecelakaan Laut Berlanjut, 1 Orang Tewas dan 1 Santri Hilang Akibat Kapal Terbalik di Ternate

Tragedi memilukan kembali mengguncang perairan Kota Ternate, Maluku Utara, setelah sebuah perahu pemancing terbalik akibat dihantam cuaca buruk di kawasan Dufa-Dufa pada Minggu (13/9/2026). Insiden yang melibatkan empat orang penumpang tersebut menyisakan duka mendalam, di mana satu orang pria dewasa ditemukan meninggal dunia, sementara seorang anak yang merupakan santri dilaporkan masih hilang dan dalam upaya pencarian intensif oleh tim SAR gabungan.

Peristiwa nahas ini terjadi di tengah kondisi perairan yang sebenarnya menjadi lokasi favorit bagi warga lokal untuk sekadar melepas penat dengan memancing. Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, kapal tersebut membawa satu orang dewasa yang bertindak sebagai pendamping dan tiga orang anak-anak. Mereka sedang menikmati waktu luang memancing di titik yang tidak terlalu jauh dari bibir pantai Dufa-Dufa. Namun, ketenangan suasana seketika berubah menjadi kepanikan hebat ketika arus bawah laut yang kuat secara mendadak beradu dengan gelombang tinggi, menghantam badan perahu hingga terbalik dan karam seketika.

Kepala Kantor SAR Ternate, Iwan Ramdani, mengonfirmasi bahwa pihaknya segera menerima laporan sesaat setelah kejadian berlangsung. Merespons laporan tersebut, tim SAR gabungan yang terdiri dari personel Basarnas, Polairud, serta dibantu oleh para nelayan setempat langsung diterjunkan ke lokasi kejadian. Iwan menegaskan bahwa operasi pencarian difokuskan pada penyisiran permukaan air dan penurunan tim penyelam di titik koordinat perahu tersebut tenggelam. "Tim SAR gabungan langsung melakukan penyisiran serta penurunan tim penyelam di sekitar titik lokasi tenggelamnya perahu guna menemukan keberadaan satu korban santri yang masih hilang," ujar Iwan Ramdani di sela-sela koordinasi pencarian.

Upaya penyelamatan awal sebenarnya telah dilakukan oleh warga sekitar yang menyaksikan insiden tersebut. Sebelum tim profesional tiba, masyarakat yang berada di pesisir pantai dengan sigap terjun ke laut untuk memberikan pertolongan darurat. Dari total empat penumpang, dua orang anak berhasil dievakuasi ke daratan dalam kondisi selamat, meski dalam keadaan syok berat. Sayangnya, nasib baik tidak berpihak pada dua korban lainnya. Pria dewasa yang mendampingi ketiga anak tersebut ditemukan tidak lama setelah kejadian, namun nyawanya sudah tidak tertolong. Sementara itu, satu anak lainnya yang diketahui merupakan seorang santri di salah satu pondok pesantren di Ternate, terseret arus bawah laut yang deras dan hingga saat ini masih belum ditemukan.

Kondisi geografis perairan di sekitar Dufa-Dufa memang dikenal memiliki karakteristik arus yang sulit diprediksi, terutama saat memasuki musim pancaroba atau ketika terjadi anomali cuaca. Kejadian ini menjadi pengingat keras bagi para pegiat aktivitas laut maupun masyarakat pesisir mengenai pentingnya kewaspadaan ekstra. Kecepatan angin dan perubahan gelombang laut seringkali datang tanpa peringatan dini yang cukup bagi kapal-kapal berukuran kecil atau perahu kayu tradisional yang tidak dilengkapi dengan peralatan keselamatan yang memadai.

Pencarian terhadap santri yang hilang terus dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk arah arus laut dan jarak pandang di bawah air. Tim penyelam menghadapi tantangan yang cukup berat, mengingat arus bawah laut di kawasan tersebut tergolong cukup kuat dan visibilitas yang terbatas. Meskipun tantangan alam menghadang, pihak Basarnas Ternate berkomitmen untuk melakukan pencarian semaksimal mungkin selama masa operasi berlangsung sesuai dengan standar prosedur operasional yang berlaku.

Pihak berwenang juga mengimbau kepada seluruh masyarakat di Ternate, khususnya bagi para nelayan maupun warga yang hendak beraktivitas di laut, untuk selalu memantau prakiraan cuaca yang dikeluarkan oleh BMKG sebelum melaut. Mengingat seringnya terjadi kecelakaan laut belakangan ini, penggunaan alat keselamatan seperti life jacket atau pelampung menjadi kewajiban mutlak bagi siapa saja yang menaiki perahu, terlepas dari seberapa dekat jarak dari bibir pantai. Kejadian di Dufa-Dufa ini bukan sekadar musibah, melainkan sebuah peringatan akan kerentanan manusia saat berhadapan dengan kekuatan alam yang tidak menentu.

Keluarga korban santri yang hilang hingga saat ini masih menanti di posko pengungsian dan bibir pantai dengan harapan penuh cemas. Dukungan moral dari masyarakat dan pemerintah daerah setempat pun terus mengalir bagi keluarga yang ditinggalkan. Insiden ini menambah panjang daftar kecelakaan laut di Maluku Utara yang selama ini menjadi jalur transportasi utama antar pulau. Ke depan, diharapkan adanya peningkatan pengawasan terhadap operasional perahu-perahu kecil, terutama yang membawa penumpang anak-anak, demi meminimalisir risiko jatuhnya korban jiwa di masa mendatang.

Hingga berita ini diturunkan, tim SAR gabungan masih terus menyisir area perairan sekitar Dufa-Dufa dengan harapan korban yang hilang dapat segera ditemukan dalam kondisi apa pun. Fokus utama saat ini tetap pada pencarian santri tersebut, sementara pihak kepolisian juga mulai melakukan pendalaman untuk mengetahui apakah terdapat kelalaian atau faktor teknis lainnya yang berkontribusi pada peristiwa tragis ini. Masyarakat diimbau untuk tidak mendekati lokasi pencarian guna memberikan ruang gerak bagi tim SAR yang sedang bertugas. Semoga doa dan upaya dari seluruh pihak dapat membuahkan hasil, dan kejadian serupa tidak terulang kembali di perairan Maluku Utara yang kita cintai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *